| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
2007年7月14日 星期六
Potensi Wisata Kabupaten Samosir
Menelusuri Tanah Karo Simalem
Tanah Karo adalah sebuah kabupaten yang terletak di Propinsi Sumatera Utara yang dipimpin oleh seorang bupati yang berkedudukan di ibukota kabupaten yaitu Kabanjahe dengan jarak sekitar 78 km dari Medan.
LAU DEBUK-DEBUK
Untuk mendaki gunung Sibayak diperlukan waktu lebih kurang 3 jam perjalanan dan kita bisa menikmati pemandangan yang indah di pegunungan tersebut atau perlu waktu 3 sampai 4 jam perjalanan di hutan untuk melihat kekayaan alam di dalamnya baik flora maupun fauna di sekitar hutan tersebut.
| ||||||||||||||||||
| Sebagian besar foto-foto ini diambil dari VCD lagu karo
| ||||||||||||||||||
Melirik Potensi Wisata Simalungun
Tidak cukup waktu sehari untuk mengunjungi seluruh objek wisata Simalungun. Bumi Simalungun sangat kaya akan potensi wisata. Terdapat 33 objek wisata meskipun baru 10% yang sudah dikelola. Bukan tidak mungkin potensi ini akan mendatangkan aset yang tidak sedikit mengingat potensi wisata yang ada tak kalah memesona jika dibandingkan dengan panorama wisata yang ada di nusantara seperti wisata Pantai Kuta Bali.
“Adapun kendala utamanya adalah modal,” kata Kadis Pariwisata Budaya dan Seni Kabupaten Simalungun Ir Boundenth D SH. “Minimnya APBD untuk sektor pariwisata menjadi kendala utama majunya pariwisata Simalungun, khususnya Danau Toba selain minimnya minat masyarakat yang tinggal di lokasi wisata setempat untuk menarik minat pengunjung untuk datang kedua kalinya,” imbuhnya ketika dimintai komentar mengenai potensi wisata alam Simalungun yang belum digali sepenuhnya.
Parapat
Perjalanan akan semakin nyaman dengan tersedianya sarana akomodasi hotel. Namun karena jarak tempuh yang jauh memungkinkan banyak wisatawan yang datang dari luar daerah maupun mancanegara enggan berkunjung.
Rumah Bolon
Rumah Bolon Pematang Purba terletak 54 km dari Pematangsintar, merupakan istana peninggalan Kerajaan Purba yang dibangun pada tahun 1864 oleh Raja Purba ke XII Tuan Rahalim. Terbuat dari kayu keras dengan dinding papan yang unik serta ditopang oleh 20 tiang penyangga. Rumah ini dibangun dengan arsitektur tradisional tanpa mempergunakan paku.
Beberapa bangunan di sekitar Rumah Bolon terdiri dari 8 tipe yang memiliki fungsi tersendiri di antaranya adalah: Rumah Bolon yang berfungsi sebagai bangunan induk tempat raja dan keluarganya tinggal; Balei Bolon, tempat mengadakan rapat, Jambur sebagai para tamu menginap; Patanggan Sada, bangunan tempat permaisuri bertenun; Losung adalah tempat wanita menumbuk padi; Uttei Jungga, tempat tinggal panglima dan keluarganya, dan Balei Buttu, tempat para penjaga istana.
Raja Purba adalah seorang raja yang sangat terkenal pada zamannya, memiliki 24 istri dan salah satu di antaranya diangkat menjadi istri.
Kramat Kubah
Kramat Kubah adalah salah satu tempat keramat untuk bernazar sekaligus objek wisata. Di sini banyak terdapat bermacam-macam jenis kera yang hidup dengan bebas sebagai penghuni tetap. Banyak kalangan percaya apabila dapat bertemu dengan Raja Kera penghuni Karamat Kubah maka apapun yang dinazarkan akan terkabul. Di tempat ini juga terdapat sebuah bangunan kelenteng kecil tempat para kaum etnis Tionghoa menyampaikan niat maupun nazarnya.
Kramat Kubah terletak 48 km dari Pematangsiantar atau 2 km dari Kota Perdagangan. Fungsi lain tempat ini adalah sebagai lokasi pelestarian kera dan monyet sama halnya dengan Hutan Sibatu Loting Sibaganding yang berada di jalan lintas Parapat yang memiliki berbagai jenis kera, siamang dan lutung.
Tinggi Raja
Tinggi Raja merupakan objek wisata cagar alam yang masih asli seluas 176 hektar, memilki sumber air panas berasal dari bukit bukit kecil di daerah itu. Air panas ini mengalir ke sungai Bah Balakbak yang bebatuan dan airnya yang jernih dan sejuk. Di sini dapat dinikmati rekreasi mandi di pertemuan air panas dan air dingin yang sangat nikmat sebagai hasil proses alam. Wisata lain yang dapat dinikmati adalah berburu suara burung, memancing di Bah Kare yang memiliki kekeyaan ikan jagung serta lintas alam. Terletak 80 km dari Pematangsiantar.
Karang Anyer
Karang Anyer merupakan tempat pemandian yang sangat mengasikkan dengan batu-batu besarnya, di mana airnya bersumber dari umbul besar yang bersih dan jernih terletak 5 km dari Pematangsiantar dan terkenal dengan buah-buahan segar yang dihasilkan di sekitar lokasi pemandian seperti rambutan, salak, durian, mangga dan manggis.
Demikian halnya dengan Bapahal yang terletak 30 km dari Pematangsiantar merupakan tempat rekreasi renang yang nyaman dengan airnya yang jernih dan sejuk dikelilingi pohon-pohon yang rindang serta kebun kelapa sawit.
Tonggo S-Susan Hayaku
Oleh Redaksi Utama Harian Global Medan - Thursday 15 June 2006
2007年7月9日 星期一
ETNIS TIONGHOA ADALAH BAGIAN INTEGRAL BANGSA INDONESIA
Pada masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kemedekaan, tidak boleh dilupakan peranan etnis Tionghoa, antara lain dalam membantu supplai bahan-bahan makanan dan menyelundupkan senjata dari Singapore untuk keperluan para gerilyawan.
Dalam pertempuran Surabaya melawan pasukan Inggris pada bulan November 1945, tidak sedikit peranan pemuda-pemuda Tionghoa. Wartawan "Merah Putih" yang terbit di Jakarta menyatakan di Surakarta mengenai kunjungannya ke medan pertempuran Surabaya antara lain, seorang pemimpin Tionghoa telah berpidato di depan corong Radio Surabaya tentang kekejaman yang dilakukan tentara Inggris terhadap rakyat Surabaya. Pidato tersebut ditujukan kepada pemerintah Tiongkok di Chungking, dan sebagai jawabannya Radio Chungking menyerukan kepada para pemuda Tionghoa agar bahu membahu bersama rakyat Indonesia melawan keganasan tentara Inggris. Seruan ini akibat pemboman pasukan Inggris yang mengakibatkan lebih dari seribu orang Tionghoa menderita luka-luka dan meninggal dunia. Menyambut seruan tersebut pemuda-pemuda Tionghoa mengorganisasikan diri ke dalam pasukan bela diri dibawah bendera Tiongkok. Mereka merebut senjata dan berangkat ke front pertempuran untuk melawan pasukan Inggris.
Berkenaan dengan pertempuran Surabaya, pada tanggal 12 November 1945, Bung Karno mengucapkan pidato antara lain : "Ratusan orang Tionghoa dan Arab yang tidak bersalah dan suka damai, yang datang di negeri ini untuk berdagang, terbunuh dan luka-luka berat. Kurban di pihak Indonesia lebih banyak lagi. Saya protes keras terhadap pemakaian senjata modern, yang ditujukan kepada penduduk kota yang tidak sanggup mempertahankan diri untuk melawan".
Demikian juga perlu dicatat peranan etnis Tionghoa dalam perjuangan politik untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada kabinet Sjahrir ke-2, Mr.Tan Po Gwan diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Tionghoa. Ketika Amir Sjarifoeddin membentuk kabinetnya, Siauw Giok Tjhan diangkat menjadi Menteri Negara yang mewakili etnis Tionghoa dan Dr.Ong Eng Die dari PNI sebagai Wakil Menteri Keuangan. Dalam perundingan di kapal USS- Renville di Teluk Jakarta, Dr.Tjoa Siek In ditunjuk menjadi anggota delegasi, demikian juga dalam Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Dr.Sim Kie Ay diikut sertakan oleh Drs.Moh.Hatta sebagai anggota dan penasihat delegasi RI.
Sebagai hasil KMB dibentuk pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan pada tanggal 15 Pebruari 1950 dibentuk parlemen. Enam orang di antara anggota parlemen RIS adalah peranakan Tionghoa. Dua orang mewakili pemerintah Republik yaitu Siauw Giok Tjhan dan Drs.Yap Tjwan Bing, seorang mewakili Negara Indonesia Timur yaitu Mr.Tan Tjin Leng, dua orang mewakili Negara Jawa Timur yaitu Ir.Tan Boen Aan dan Mr.Tjoa Sie Hwie dan Tjoeng Lin
Sen mewakili Negara Kalimantan Barat.
Di masa Demokrasi Parlementer (1950-1959), delapan orang etnis Tionghoa menjadi anggota DPRS yaitu : Siauw Giok Tjhan, Tan Boen Aan, Tan Po Gwan, Teng Tjin Leng, Tjoa Sie Hwie, Tjoeng Lin Sen (pada bulan Agustus 1954 diganti Tio Kang Soen), Tjung Tin Jan dan Yap Tjwan Bing (pada bulan Agustus 1954 diganti Tony Wen alias Boen Kim To).
Di dalam kabinet Ali Satroamidjojo I Dr.Ong Eng Die ditunjuk menjadi Menteri Keuangan dan Lie Kiat Teng menjadi Menteri Kesehatan. Dalam DPR hasil Pemilihan Umum tahun 1955 terpilih beberapa orang etnis Tionghoa yaitu Oei Tjeng Hien (Masjumi), Tan Oen Hong dan Tan Kim Liong (NU), Tjung Tin Jan (Partai Katholik), Lie Po Joe (PNI), Tjoo Tik Tjoen (PKI) dan Ang Tjiang Liat (Baperki). Sedangkan di Konstituante terpilih sebagai anggota antara lain Siauw Giok Tjhan, Oei Tjoe Tat, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan, Liem Koen Seng, Oei Poo Djiang-kesemuanya dari Baperki, Tony Wen dari PNI, Oei Hay Djoen dan Tan Ling Djie dari PKI.
Di masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Siauw Giok Tjhan ditunjuk menjadi anggota DPR-GR mewakili golongan fungsional. Kemudian dalam Kabinet Kerja ke-IV, Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Oei Tjoe Tat diangkat menjadi Menteri Negara diperbantukan kepada Presiden RI dan David Gee Cheng diangkat menjadi Menteri Ciptakarya & Konstruksi dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan.
Setelah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950 dan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949, etnis Tionghoa di Indonesia terpecah menjadi yang memilih warga Negara Indonesia dan yang memilih warga Negara RRT. Yang memilih warga negara Indonesia kebanyakan golongan peranakan, dan yang memilih warga negara RRT golongan totok. Namun di kalangan totok juga terjadi perpecahan antara yang pro Kungchangtang/RRT dan yang pro Kuomintang/Taiwan. Yang pro Taiwan kebanyakan memilih menjadi stateless. Perpecahan ini juga tercermin dari media massa masing-masing pihak yaitu harian Sin Po edisi bahasa Tionghoa dan "Shen Hua Pao" yang sejak awal penerbitannya pada awal penyerahan kedaulatan selalu mengambil sikap pro RI. Sedangkan yang pro Taiwan adalah harian "Thian Sheng Yit Pao" yang telah terbit sejak jaman Belanda dan diasuh oleh tokoh-tokoh Kuomintang di Indonesia. Karena Taiwan terilbat dalam pemberontakan PRRI/Permesta, Kuomintang dilarang di Indonesia dan sekolah-sekolahnya ditutup.
Di masa Demokrasi Parlementer (1950-1959) dan Demokrasi Terpimpin (1959-1965) perlu dicatat peranan Baperki (berdiri tahun 1954) sebagai ormas terbesar yang mewakili etnis Tionghoa dalam memperjuangkan hak-hak dan kepentingan etnis Tionghoa, dan melawan setiap bentuk diskriminasi. Baperki secara aktif membantu orang-orang Tionghoa yang ingin memilih warga negara Indonesia. Demikian juga Baperki mendirikan sekolah-sekolah dan universitas untuk menampung anak-anak Tionghoa yang membutuhkan pendidikan terutama anak-anak Tionghoa warga negara Indonesia yang harus meninggalkan sekolah-sekolah berbahasa pengantar Tionghoa sesuai peraturan yang berlaku. Dalam menyelesaikan "masalah minoritas Tionghoa", Baperki di bawah pimpinan Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, Oei Tjoe Tat dllnya mengembangkan doktrin nation building dan integrasi, yaitu sebuah doktrin yang ingin membangun sebuah nation atau bangsa yang bersih dari diskriminasi rasial serta adanya kesamaan hak dan kewajiban warga negaranya tanpa mempermasalahkan asal-usulnya dan mengintegrasikan etnis Tionghoa secara utuh ke dalam haribaan bangsa Indonesia. Doktrin integrasi meyakini kebenaran konsep kemajemukan atau pluralisme bangsa Indonesia seperti yang dinyatakan para founding fathers bangsa Indonesia dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Adalah suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku,etnis, ras dan agama dengan budayanya masing-masing. Selanjutnya ia berpendapat nation yang bersih dari diskriminasi rasial hanya dapat terwujud di dalam masyarakat sosialis yang bersih dari penghisapan manusia atas manusia atau golongan mayoritas terhadap golongan minoritas dan sebaliknya.
Dalam perkembangannya, di era perang dingin Baperki ternyata harus menghadapi situasi tarik-menarik antara kekuatan-kekuatan politik kiri dan kanan. Untuk mengatasinya Baperki dengan doktrin integrasinya tidak mempunyai pilihan lain, selain berdiri di belakang Presiden Soekarno yang sedang dengan gencar melaksanakan konsep Manipol/Usdek dan persatuan
Nasakom. Karena mendukung politik Presiden Soekarno, dengan otomatis Baperki berada dalam satu barisan bersama seluruh "kekuatan revolusi" pada masa itu, seperti PNI, PKI, Partindo, Perti, Partai Katholik, NU, PSII dsbnya dalam perjuangan mewujudkan masyarakat sosialis Indonesia yang bersih dari penghisapan manusia atas manusia. Situasi ini menyebabkan Baperki lebih dekat dengan PKI, Partindo, PNI dan kekuatan-kekuatan pendukung Bung Karno lainnya.
Terutama dengan PKI yang selalu mendukung Baperki dalam perjuangannya menentang diskriminasi rasial, baik di DPR maupun di forum-forum lainnya dan di media massa Harian Rakyat, atau di lapangan seperti apa yang dilakukan PKI dalam menentang Peristiwa Rasialis 10 Mei 1963 di Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat. Hal ini menyebabkan banyaknya etnis Tionghoa, khususnya anggota dan simpatisan Baperki yang bersimpati kepada PKI, Partindo dan ormas-ormasnya, kemudian ikut bergabung di dalamnya Namun ketika terjadi Peristiwa G30S seperti banyak organisasi-organisasi dan partai-partai politik lainnya, Baperki menjadi korban keganasan rejim militer Jenderal Soeharto.
Sementara itu sekelompok peranakan Tionghoa yang kebanyakan berpendidikan Belanda eks Chung Hwa Hui yang tidak setuju dengan doktrin integrasi, mengembangkan doktrin asimilasi total. Untuk itu pada tanggal 24 Maret 1960 di Jakarta dikeluarkan "Statement Asimilasi" yang dengan tegas berpendirian bahwa masalah minoritet hanya dapat diselesaikan dengan jalan asimilasi dalam segala lapangan secara aktip dam bebas. Para penanda tangan statement tersebut adalah sepuluh orang tokoh peranakan Tionghoa yang beberapa orang di antaranya malah ikut mendirikan Baperki, namun telah meninggalkannya pada tahun 1955. Di antara penanda tangan tersebut antara lain Mr.Tjung Tin Jan, Injo Beng Goat, Drs.Lo Siang Hien, Ong Hok Ham, Drs.Lauwchuantho (H.Junus Jahya) dan Mr.Auwjong Peng Koen (P.K.Ojong). Kemudian pada tanggal 13-15 Januari 1961, di Bandungan (Ambarawa) diselenggarakan Seminar Kesadaran Nasional yang menghasilkan "Piagam Asimilasi". Di antara 30 penanda tangan piagam tersebut adalah Ong Hok Ham, Lauwchuantho dan Kwik Hway Gwan (ayah Drs.Kwik Kian Gie).
Untuk melaksanakan doktrin asimilasi total dan menandingi serta menghambat pengaruh Baperki, maka oleh para pendukungnya pada tahun 1963 dibentuk sebuah organisasi bernama Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB) dengan ketuanya Ong Tjong Hai SH. alias Kristoforus Sindhunatha, seorang Letnan Angkatan Laut dan mendapatkan dukungan penuh dari pimpinan Angkatan Darat dan tokoh-tokoh politik seperti Letkol Harsono, Mayor Ismail Hambali, Prof.Sunario SH., Drs. Radius Prawiro, Drs.Frans Seda, Roeslan Abdulgani,
Harry Tjan, Djoko Sukarjo dllnya. Salah satu program LPKB adalah pelaksanaan asimilasi di segala bidang kehidupan secara serentak dengan titik berat pada asimilasi sosial. Asimilasi setidak-tidaknya dilaksanakan dalam lima bidang kehidupan sebagai berikut : asimilasi politik, asimilasi kulturil, asimilasi ekonomi, asimilasi sosial/campur gaul dan asimilasi kekeluargaan (pernikahan) . Kelima-limanya harus dilaksanakan dengan serentak (sinkron) dengan mempertimbangkan timing dan irama yang sebaik-baiknya. Setelah meletusnya Peristiwa G30S, LPKB memainkan peranan penting dalam mengeliminasi budaya, tradisi, agama dan bahasa Tionghoa seperti yang dituangkan dalam berbagai kebijaksanaan dan peraturan rejim Orde Baru.
Selama tiga puluh dua tahun pemerintahan Orde Baru, etnis Tionghoa diisolasi dari kegiatan politik. Penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang berindikasi G30S/PKI termasuk tokoh,anggota dan simpatisan Baperki dan organisasi-organisa si Tionghoa lainnya, telah menimbulkan trauma yang berkepanjangan di kalangan masyarakat Tionghoa. Baperki dijadikan stigma untuk menakut-nakuti etnis Tionghoa agar menjauhi wilayah politik. Setelah menghancurkan harga diri etnis Tionghoa dengan mengganti sebutan Tionghoa menjadi Cina, melarang perayaan agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina secara terbuka, melarang penggunaan bahasa dan cetakan dalam bahasa Cina dan anjuran agar mengganti nama yang berbau Cina, etnis Tionghoa hanya diberi ruang untuk melakukan bisnis semata. Kalaupun ada segelintir etnis Tionghoa yang terjun dalam politik praktis, mereka hanya dijadikan bendahara atau mesin penghasil uang saja. Memang ada beberapa orang etnis Tionghoa yang aktif terjun dalam aksi-aksi melengserkan Presiden Soekarno seperti dua bersaudara Liem Bian Kie dan Liem Bian Koen, Harry Tjan dan Soe Hok Gie.
Namun dalam perkembangannya Soe Hok Gie yang merasa kecewa kepada pemerintahan otoriter Jenderal Soeharto malahan menjadi oposisi dan meninggal dalam usia muda karena kecelakaan, menghirup gas beracun di gunung Semeru. Sementara itu kedua saudara Liem dan Harry Tjan ikut mendirikan CSIS yang pada dekade pertama dan kedua pemerintahan Orde Baru, di masa jayanya Jenderal Ali Moertopo dan Jenderal Soedjono Hoemardani, memainkan peranan penting dalam menentukan kebijaksanaan pemerintahan Orde Baru. Liem Bian Koen sendiri akhirnya beralih profesi menjadi pengusaha (konglomerat) dan menjadi juru bicara pengusaha-pengusaha yang tergabung dalam Yayasan Prasetya Mulia. Sebaliknya beberapa tahun sebelum lengsernya Presiden Soeharto, secara mengejutkan Drs.Kwik Kian Gie meninggalkan Yayasan Prasetya Mulia dan menggabungkan diri dengan PDI, selanjutnya dalam konflik internal partai, ia berpihak kepada Megawati Soekarnoputeri yang mendapatkan tekanan keras dari rejim yang berkuasa.
Aksi-aksi anarkis dan politik dikriminasi rasial anti Tionghoa. Dari catatan sejarah kita mengetahui bahwa sebelum kedatangan orang-orang Belanda yang mendirikan VOC dan kemudian pemerintahan Hindia Belanda, orang-orang Tionghoa selama ratusan tahun telah bermukim dengan tenang, damai dan berbaur dengan penduduk di berbagai tempat di Nusantara, terutama di pesisir utara pulau Jawa dan di pesisir timur Sumatera Selatan. Demi kepentingan perdagangannya, dengan mengeluarkan berbagai peraturan pemerintah Hindia Belanda telah melakukan politik segregasi untuk memisahkan orang-orang Tionghoa dari penduduk setempat (bumiputera), Aksi kejahatan anti Tionghoa yang pertama di Nusantara adalah pembunuhan orang-orang Tionghoa pada tahun 1740 di Batavia. Lebih dari 10.000 orang Tionghoa dibantai dengan kejam oleh pasukan VOC dan ratusan rumah dijarah dan dibakar dengan semena-mena. Darah dan mayat korban pembunuhan tersebut memenuhi sebuah sungai yang sampai sekarang dinamakan kali Angke. Kejadian kedua adalah pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Pangeran Adipati Cakraningrat IV di pesisir utara Jawa Tengah/Jawa Timur, mulai dari Tuban, Gresik sampai ke Surabaya, saat berlangsung perang antara orang-orang Tionghoa dan sekutunya orang-orang Jawa melawan VOC. Kemudian pada tanggal 23 September 1825, pada awal Perang Jawa, di Ngawi, sebuah kota kecil di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, terjadi pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa yang dilakukan pasukan berkuda yang dipimpin Raden Ayu Yudakusuma, puteri Sultan Hamengku Buwono I. Puluhan mayat orang Tionghoa bergelimpangan di muka pintu, di jalan-jalan dan di rumah-rumah yang penuh lumuran darah. Pembantaian di Ngawi ternyata bukan satu-satunya kejadian pada masa permulaan Perang Jawa. Di seluruh Jawa Tengah dan di sepanjang Bengawan Solo, pembantaian orang-orang Tionghoa terjadi berulang-ulang, pada saat mereka dalam keadaan terisolir diserang oleh pasukan pemberontak.
Setelah berakhirnya Perang Jawa, pemerintah Hindia Belanda telah sepenuhnya menguasai pulau Jawa dan daerah-daerah lainnya di Indonesia kecuali Aceh. Pemerintah Hindia Belanda melakukan tindakan keras terhadap setiap usaha yang bertujuan untuk melawan pemerintah atau melakukan pemberontakan. Raja-raja Jawa telah dibuat mandul dan menjadi pengikut yang jinak dan setia. Seluruh konsentrasi di lakukan untuk menjamin keamanan pelaksanaan cultuurstelsel (tanam paksa) yang sangat menguntungkan pemerintah Kerajaan Belanda. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah, trampil dan rajin, selama beberapa dekade pemerintah Hindia Belanda mendatangkan ratusan ribu orang Tionghoa dari bagian selatan daratan Tiongkok untuk di jadikan buruh perkebunan di Sumatera Utara (orang-orang Hokkian) dan buruh tambang timah di pulau Bangka dan Bilitung (orang-orang Hakka). Di samping itu karena tidak tahan menghadapi bencana alam (banjir) dan perang saudara yang terus berlangsung di daratan Tiongkok, banyak juga orang-orang Tionghoa yang atas kemauannya sendiri berdatangan ke Indonesia untuk mencari kehidupan baru. Migrasi besar-besaran orang-orang Tionghoa ini baru berakhir menjelang berlangsungnya Perang Dunia II. Nah, keturunan orang-orang inilah yang sekarang disebut orang-orang Tionghoa totok.
Walaupun dilahirkan di Indonesia, namun karena mereka dibesarkan di lingkungan yang terisolir dari penduduk setempat, mereka masih kental memelihara budaya Tionghoa dan setiap hari menggunakan bahasa Tionghoa atau dialek asal kampungnya di daratan Tiongkok. Karena kendala bahasa, mereka sulit membaurkan diri dengan penduduk di sekelilingnya. Ini terjadi dengan komunitas Tionghoa yang berasal dari Sumatera Utara, Jambi, Riau, Bangka-Bilitung dan Kalimantan Barat.
Walaupun terjadi gesekan-gesekan kecil antara pedagang-pedagang Tionghoa dengan pedagang-pedagang pribumi dan Arab, selama beberapa dekade tidak ada kejadian aksi-aksi rasialis anti Tionghoa yang menonjol. Baru pada tanggal 31 Oktober 1918 rumah-rumah dan toko-toko milik orang Tionghoa di kota Kudus habis dijarah dan dibakar oleh ribuan massa Sarekat Islam yang datang dari Mayong, Jepara, Pati, Demak dan daerah-daerah sekitarnya. Korban meninggal dunia enam belas orang yang terdiri dari orang-orang Tionghoa dan para perusuh, yang luka-luka ratusan orang, Berdirinya Sarekat Dagang Islam yang diprakarsai Tirto Adhi Soerjo sebenarnya bukan bertujuan untuk melawan para pedagang Tionghoa yang dianggap menjadi pesaing utama para pedagang Islam. SDI kemudian berubah menjadi Sarekat Islam dan berkembang dengan pesat sehingga anggotanya mencapai setengah juta orang. Dalam perkembangannya SI menjadi organisasi yang militan pada masa itu dalam berjuang melawan penjajahan Belanda.
Untuk mengalihkan konflik, pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan politik adu domba dan berusaha membenturkan kepentingan-kepentingan pedagang-pedagang Islam yang dipelopori pedagang-pedagang Arab dengan pedagang-pedagang Tionghoa yang menjadi saingan utamanya. Persaingan antara pedagang-pedagang batik dan rokok kretek Arab dengan pedagang-pedagang Tionghoa sengaja dihembus-hembuskan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan para penasihatnya dari Biro Urusan Bumiputera, Terjadi bentrokan-bentrokan kecil antara kedua kelompok pedagang tersebut yang mencapai puncaknya pada "Peroesoehan di Koedoes".
Aksi penjarahan baru terjadi kembali pada saat bala tentara Jepang mendarat di Jawa. Tentara Belanda yang mengundurkan diri dari kota-kota besar mendobrak dan menjarah toko-toko P&D yang ditinggalkan pemiliknya untuk mengungsi. Perbuatan tersebut telah mendorong rakyat yang hidup serba kekurangan untuk meniru tindakan anggota-anggota militer Belanda tersebut. Maka terjadilah perampokan-perampok an dan penjarahan-penjarah an toko-toko dan rumah-rumah orang Tionghoa yang ditinggalkan pemiliknya untuk mengungsi. Kerugian paling banyak dialami orang-orang Tionghoa di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ratusan pabrik milik orang Tionghoa dihancurkan pasukan Belanda yang sedang mengundurkan diri.
Tetapi puncak dari aksi-aksi anti Tionghoa adalah pada masa sebelum dan sesudah Agresi Belanda. Pada bulan Mei 1946, sebanyak 635 orang Tionghoa, termasuk 136 orang perempuan dan anak-anak di daerah Tangerang dan sekitarnya telah menjadi korban pembunuhan. 1.268 rumah etnis Tionghoa habis dibakar dan 236 lainnya dirusak. Diperkirakan ada 25.000 orang pengungsi di Jakarta yang datang dari daerah tersebut. Selanjutnya terjadi pembantaian, pembakaran dan pejarahan rumah-rumah dan harta benda milik orang Tionghoa di Bagan Siapi-Api, Kuningan, Majalengka, Indramayu, Pekalongan, Tegal, Puwokerto,Purbaling ga, Bobotsari, Gombong, Lumajang, Jember, Malang, Lawang, Singosari dllnya. Ratusan orang Tionghoa menjadi korban pembantain dan ribuan toko, pabrik, kendaraan, dllnya habis dibakar atau dijarah.
Sebenarnya aksi-aksi kekerasan ini diprovokasi pihak NICA (Nederlandsch Indie Civil Administration) yang ingin menjatuhkan reputasi Republik Indonesia di dunia internasional dan sayangnya sebagian rakyat Indonesia tidak waspada dan masuk dalam perangkap tersebut. Akibat pembantaian dan perampokan serta penjarahan tersebut, sekelompok etnis Tionghoa mendirikan sebuah organisasi untuk membela diri dan menjaga keamanan. Organisasi tersebut bernama "Pao An Tui" yang artinya barisan penjaga keamanan. Namun dalam perkembangannya sebagian dari anggota Pao An Tui yang merasa sakit hati dan dendam karena keluarganya menjadi korban, berhasil dibujuk dan dipersenjatai Belanda untuk digunakan menghadapi pasukan Indonesia. Hal inilah yang kemudian menjadi stigma negatif pertama bagi etnis Tionghoa yang selama puluhan tahun ditiup-tiupkan sementara golongan untuk mendiskreditkan etnis Tionghoa, seolah-olah seluruh etnis Tionghoa reaksioner, pro NICA dan menentang Republik.
Sejak pemerintahan RIS dan penyerahan kedaulatan serta terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Demokrasi Parlementernya ada usaha-usaha dari pihak tertentu dalam pemerintahan untuk menjalankan kebijaksanaan yang berbau rasis. Kebijaksanaan tersebut antara lain program "benteng" importir yang diprakarsai oleh Menteri Kesejahteraan Ir.Djuanda. Kebijaksanan yang hanya memberikan lisensi impor kepada golongan pribumi, melahirkan pengusaha-pengusaha atau importir-importir "aktentas", yaitu pengusaha yang tidak bermodal dan tidak punya kantor, dengan membawa sebuah aktentas keluar masuk kantor instansi pemerintah untuk mendapatkan lisensi impor bermacam-macam barang. Dengan mengantungi lisensi ini mereka mendatangi pedagang-pedagang Tionghoa untuk menjual lisensi tersebut. Kerja sama inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan sistim Ali-Baba.
Walaupun dalam kabinet Ali Sastroamidjojo ke-1 terdapat dua orang menteri dari etnis Tionghoa, hal ini tidak menjamin bersihnya kebijaksanaan- kebijaksanaan yang berbau rasis. Dengan alasan untuk menjamin pengadaan dan stabilitas harga beras, pemerintah bermaksud menguasai perdagangan dan peredaran beras dan untuk itu dikeluarkan peraturan wajib giling padi pemerintah dan melarang penggilingan- penggilingan beras (huller) menggiling padi di luar pemerintah. Padahal 98 % penggilingan beras adalah milik etnis Tionghoa.
Akibatnya banyak penggilingan padi yang menganggur dan munculnya centeng-centeng yang kebanyakan dari kalangan militer untuk melindungi penggilingan- penggilingan beras yang secara illegal menggiling padi rakyat.
(Disampaikan pada Diskusi Akbar yang diselenggarakan Perhimpunan INTI Jakarta pada tanggal 27 April 2002, bertempat di Hotel Mercure Rekso,Jakarta.)
2007年7月8日 星期日
Datanglah Ke Pantai Berawie Pangkalansusu Tujuan Wisata di Langkat
Pantai Berawe, selain memiliki keindahan pantai, juga memiliki keistimewaan tersendiri. Di dalam pasir putih pantai ini terdapat sejenis kerang laut berukuran kecil, biota laut kecil ini makanan berprotein yang oleh penduduk setempat dinamakan remis. Dengan hanya mempergunakan tangan atau kayu kecil mengais pasir di pantai tersebut anda akan mendapatkannya tanpa harus mengeluarkan uang dari dalam kantong. Remis ini bisa buat oleh-oleh untuk dibawa pulang atau dimasak di lokasi pantai bersama keluarga sebagai menu tambahan.
Apabila anda bersama keluarga atau pacar ingin merasakan hembusan angin dan deburan ombak Selat Malaka secara langsung berkunjunglah ke Pantai Berawe. Di tempat ini wisatawan tak perlu ragu terkena sengatan panas matahari, sebab di sepanjang pantai tersebut ditumbuhi pepohonan alami berdaun rindang. Di bawah naungan pohon-pohon rindang di sekitar lokasi juga telah dibangun warung-warung tersedia bangku dan meja untuk santai sambil menikmati makanan ringan, seperti udang, kepiting, blangkas dan minuman segar seperti air kelapa muda dari warung yang dikelola warga setempat secara tradisional.
Sementara bagi yang hoby bermain-main dengan air atau menceburkan diri ke laut Selat Malaka tak perlu khawatir terhanyut dibawa arus air laut. Sebab pantai tersebut kedalaman laut saat air pasang hanya 1 meter. Sedangkan di saat air surut kedalaman air sampai radius 50 meter dan bibir pantai Cuma 70 cm, demikian dikatakan, Amir Husein (mantan kades) Pulau Kampai.
Husein lebih lanjut menuturkan kepada penulis, Pantai Berawe itu sudah sejak lama dikenal masyarakat Langkat maupun masyarakat dari daerah Aceh khususnya para nelayan sejak 150 tahun silam. Di lokasi ini dulunya merupakan tempat persinggahan para nelayan untuk melepas penat sejenak sambil bersantap makan masing-masing. Berawe dengan sebutan bahasa etnis Aceh, artinya makan-makan.
Sementara itu, Edy, Ketua Asosiasi Parawisata Pantai (APP) Pantai Berawe, yang juga pemilik salah satu warung di sela-sela kesibukannya melayani pembeli baru-baru ini kepada penulis mengatakan, jika Pantai Berawe itu dikelola secara profesional, tidak tertutup kemungkinan pantai tersebut akan dikunjungi wisatawan manca negara. Menurutnya, jarak tempuh dari Desa Pulau Kampai ke negara jiran Malaysia dengan menumpang kapal motor (KM) dengan kapasitas mesin 20 PK dapat ditembus berkisar 12 jam. Sedangkan dengan mesin turbo atau mesin temple ganda dapat ditempuh perjalanan selama 7 jam, dan demikian juga ke Pelabuhan Belawan dapat ditempuh dengan waktu lima jam.
Sebelum ke pantai Berawe, terlebih dahulu singgah di pelabuhan Pangkalansusu, puluhan boat penumpang maupun carteran siap untuk mengantarkan keluarga atau kelompok ke lokasi parawisata Pantai Berawe, dengan menempuh perjalanan waktu selama 40 menit. Atau sebelum menuju pantai tersebut, sebaiknya singgah sebentar di Pelabuhan Pulau Kampai untuk mengunjungi dua buah kuburan yang panjangnya 4-5 meter. Di dalam makam yang sudah dipugar ini, menurut para orang tua di desa tersebut, kedua kuburan panjang itu merupakan kuburan peninggalan sejarah “Sepasang suami istri pedagang yang berasal dari Tiongkok.”
Selain itu, berjarak 50 meter dari dua kuburan panjang itu, terdapat pula makam sepasang kekasih yang dikenal dengan kuburan Mas Merah. Mengenai makam Mas Merah ini, para wisatawan akan mengetahui kisahnya dari penjaga makam. Setelah itu dengan kendaraan roda dua (RBT), baik milik pribadi yang sengaja dibawa atau carteran, dan dengan waktu 10 menit akan tiba di tempat tujuan wisata Pantai Berawe. Dalam perjalanan menuju lokasi wisata itu, kita akan melintasi rumah-rumah warga serta akan melihat areal persawahan tadahujan yang terbentang seperti tanpa batas seluas lebih kurang 800 Ha.
Pantai Berawe di Desa Pulau Kampai, apabila dikelola secara profesional kemungkinan akan dapat sejajar dengan objek wisata bahari yang ada di Sumatera Utara, seperti Pantai Cermin. Pantai ini akan menjadi salah satu andalan devisa Kabupaten Langkat melalui sektor parawisata, kata Edy. Dikatakan, saat ini khususnya pada hari minggu, tidak kurang dari 500-700 ratus orang pengunjung baik yang datang dari Langkat, apalagi dari Aceh Tamiang dan Aceh Timur berkunjung ke Pantai Berawe. Dan keberadaan Pantai Berawe itu sudah didaftarkan ke Dinas Parawisata Kabupaten Langkat, namun sampai sejauh ini belum ada bantuan yang diberikan untuk memberikan bimbingan/penyuluhan termasuk penataan lokasi dari pihak dinas tersebut.
Untuk mendorong lajunya sektor parawisata ini, kata Amir Husin, pemerintah diharapkan dapat membantu fasilitas yang memang sangat dibutuhkan saat ini, seperti pengadaan getek (alat penyeberangan), dan prasarana jalan menuju lokasi wisata. Kondisi getek yang sekarang digunakan untuk alat penyeberangan bahannya terbuat dari kayu dan mesin apa adanya. Daya tampung getek ini belum dapat dimaksimalkan untuk mengangkut/menyeberangkan sepeda motor, mobil dan para penumpang.
Sehubungan dengan itu, Amir, menghimbau Dinas Parawisata Langkat maupun Provinsi Sumut kiranya dapat membangun sarana dan prasarana untuk memajukan lokasi wisata tersebut. Dikatakan, jika pantai ini dikelola secara profesional, selain dapat menambah devisa untuk Pemkab Langkat maupun Sumut, juga pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah ini akan semakin maju, ujarnya penuh harap.
Sumber : http://hariansib.com/ (edisi 7 Juli 2007)
2007年7月7日 星期六
靈恩派(Pentecostal)
第2世紀孟他努派(Montanism)是靈恩運動始祖,他說「我領受的啟示超過聖靈給保羅跟彼得的啟示」。他們跳靈舞,認為從山上跳下去,聖靈會保守。結果有一個女孩Masin,從山上跳下去死在山下。他們說方言,教父特土良離開正統教會加入孟他努派。奧古斯丁認為方言的恩賜屬初代教會,提出恩賜停止論。中世紀的西篤會(Cistertian)修士約雅斤宣稱自西元1260年開始,屬聖靈時代。本篤會Hildegard von Bingen修女用方言歌唱,畫靈恩圖。
路德認為追求聖靈的目的是宣揚基督、傳揚上帝的話。通過聖靈,我們可體會上帝在耶穌基督裡接近我們,而因信稱義。亦即上帝透過聖靈使我們體會溫柔、慈愛、 憐憫的上帝,而非嚴厲、公義、審判的上帝。
加爾文是第一位全面以聖靈角度來做神學思想的神學家:
-
上帝的靈與上帝的話一起做工:這是加爾文神學中心思考, 亦在宗教體驗中對聖靈領受和對上帝的話的瞭解應該是相輔相成的,表達了 在宗教體驗中平衡的發展。所有來自上帝的靈的體驗都必須透過上帝的話來印證 ,所有對上帝的話的瞭解都必須透過上帝的靈的感動。
-
以耶穌基督為中心:基督是上帝啟示的中心,也是上帝的話的焦 點,因此上帝的靈與上帝的話之密切關係,亦可應用在聖靈與耶穌基督之間的關係。
-
聖靈的位格:位格必須在關係中才能表明而顯示出其特質,因此、聖靈的位格必須建立在與聖父聖子的關係,所以聖靈不只是聖靈本身,同時也是聖父的靈和聖子的靈。
18、19世紀,敬虔主義針對聖靈的看法,傾向靈裡更新,幫助信徒成聖。18世紀循道主義,對聖靈的認識較完備,提倡第二次恩典,以後五旬節派就用這架構,來詮釋靈洗。衛斯理認為方言可豐富個人屬靈經歷。
-
富樂神學院教授Peter Wagner將20世紀的靈恩運動分為三波:
1. 第一波
傳統「五旬節運動」(Pentecostal Movement),由Charles Parham1901年於Topeka, Kansas,伯特利學院被聖靈澆灌,多人悔改病得醫治。William Seymour1906年帶到Azusa, CA聚會被聖靈擊倒、說方言、病得醫治。信徒多來自西方社會的低下階層。第一波強調第二次的洗就是靈洗,與水洗分開,在神學上也引發爭議。按著不同洗禮的層次而將基督徒劃分了不同的等級。將領受方言與領受聖靈等同,使得聖靈工作侷限在少數人身上,而且把聖靈 的能力和聖靈本身混同。
2. 第二波
60年代「靈恩運動」(Charismatic Movement)流行於基督教和天主教中上階級。最有影響力的David Plessis是南非五旬節派,透過WCC介紹靈恩運動,用文字工作,將各宗派有靈恩經歷者連結。其跟隨者來自社會的中上階層、各大宗派、大專院校和天主 教 。第二波在神學上做了調整:說方言為聖靈恩賜的一種,而不是聖靈感動唯一憑據。 方言不再是關注焦點,也避免許多衝突。 聖靈充滿是開發恩賜及更新教會,而不是為了經歷第二次的洗。 聚會轉向敬拜讚美深入 體驗敬拜的意義。
3. 第三波
第三波是由溫約翰在加州阿納海姆葡萄園團契發展出來的。開始的時候只是貴格會幾個領導人物自組家庭查經聚會,時為1976年10月。77年1月溫約翰才加 入。在3個月時間,人數已由原本的12人增到125人,遂自立改名為加略山教堂。到77年4月初,會友開始經歷聖靈充滿、說方言、行神醫等事,吸引大量年 輕人參加聚會;人數由立會時的125人增加到700人;會友平均年齡是19歲,到83年為21歲。82年5月改名為葡萄園基督徒團契;85年人數增到 5000千人,另有120個分會;按Barrett估計,約有二千萬第三波基督徒。此葡萄園運動的另一領導人是C. Peter Wagner。他們不欲被稱為靈恩派,John White認為靈恩派常給人缺乏智慧及神學反省的印象。魏格納的解釋是,他們要經歷聖靈的能力,在醫病、趕鬼、說預言,和在不影響現有之事奉下,參與其他 聖靈恩賜的彰顯。韋約翰的解釋是昧於第二波的神學作品,他的解釋與第一、二波的特徵不能分開來。故第三波是只有時間上的不同,沒有內容上的分別。即使魏格 納在上述文章列出五點被視為第三波的特徵,在第二波不屬極端的作品仍然可以找得出來。
90年代出現第四波,這一波的浪潮,仍然由第三波運動主要人物,來帶領整個神學理念和行為,不同的是加入神學理念的新元素、新解釋以致在事工推動上有新取向,並加入了新的群體。人數增長很快。David Barrett編World Christian Encyclopedia, 2001的統計:1987年靈恩派有二億四千七百萬人,而2000年是七億七千萬人(David Barrett,Todd M Johnson編World Christian Trends AD30-AD2000, William Carey, 2001)。
B. Harvard神學院教授Harvey Cox 觀察五旬節派與靈恩派,把百年來全球性聖靈運動現象,分為三層面的結構:
-
狂喜性的言語(說方言或有關言辭的型態)。
-
神秘性的虔誠(魂遊象外、異象、異夢、靈舞、醫治或其他種的宗教經驗)。
-
千禧年的熱情(啟示主義和末世論的導向)
C. Jacquet 編Yearbook of American and Canadian churches 把靈恩分成三派:
-
Holiness-Pentecostal: 基督徒三階段經驗論為轉變,聖潔,靈 洗:Apostolic Faith, Church of God, Church of God (Cleveland, Tenn.), Church of God in Christ, Church of God in Christ, Church of God in Christ--International, Church of God of prophecy, Church of God of the Mountain Assembly, Congregational Church of God, Original Church of God, Pentecostal Fire-Baptist Church Inc., International, Pentecostal holiness Church, United Holy Church of America.
-
Baptistic-Pentecostal: 基督徒二階段經驗論為轉變,靈洗:Assemblies of God, Elim, Bible Church of Christ Inc., Elim fellowship, International Full Gospel Assemblies, International Assemblies of God, International Church of the Foursquare Gospel, Open Bible Standard Churches, Pentecostal Church of God.
-
Oneness Pentecostal: 否認三一論,耶穌就是神 (Jesus Christ alone is God):Apostolic Overcoming Holy Church of God, Apostolic Faith Mission Church of God, Bible Way Church of Our Lord Jesus Christ, World Wide Inc. International United Pentecostal Church。
Unitarian只承認有上帝。批評者認為靈恩派三一論則是:聖靈,聖靈,聖靈。吳祖光《出軌的靈恩運動》列舉了多倫多的祝福、錫安教會賣雙氧水、1995潤八月血洗台灣等假預言對教會和信徒 造成很大的傷害。假借神醫之名,欺世盜名,甚至犯罪危害社會。評者認為靈恩派強調的權能與世人追逐的權力,在本質和影響上頗有相近之處,反而與十字架藉捨己來彰顯的大能較不相干。真實的信仰是需要聖經及神學作導航,不斷提出批評、自省和校正,才不至於迷失。
教派發展圖
※Campbell/Stone tradition 教派又稱「基督使徒教會」Christian Churches (Disciples of Christ) USA是美國產生的教派,和台灣基督長老教會合作。
http://www.bostontcc.org/ASS-CD/ASS-Pentecost.htm
Statistics Overseas Chinese populations
Source:
| Rank | Countries | Amount (top to bottom) | |
| #1 | Indonesia: | 7,310,000 | |
| #2 | Thailand: | 6,100,000 | |
| #3 | Malaysia: | 5,280,000 | |
| #4 | Singapore: | 2,291,100 | |
| #5 | Philippines: | 2,200,000 | |
| #6 | United States: | 2,000,000 | |
| #7 | Burma: | 2,000,000 | |
| #8 | Vietnam: | 1,900,000 | |
| #9 | Canada: | 910,000 | |
| #10 | Australia: | 454,000 |
Statistics Overseas Chinese populations
2007年7月4日 星期三
Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa
MESKI Indonesia telah merdeka tahun 1945, pengangkatan pahlawan nasional baru dimulai sejak tahun 1959. Sampai sekarang tercatat lebih dari 100 pahlawan yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Tahun lalu, Pong Tiku masuk jajaran tokoh terhormat ini. Ia adalah pejuang dari Tanah Toraja yang berperang melawan Belanda tahun 1905-1907. Deretan pahlawan nasional itu bagai album perjuangan. Masing-masing daerah berusaha memasukkan "foto"-nya ke album bersama ini. Pada akhir pemerintahan Soeharto, dirasa tidak cukup bila provinsi diwakili seorang tokoh, sampai-sampai ada kabupaten yang ingin memperjuangkan pahlawan yang berasal dari wilayah mereka sendiri (daerah tingkat II).
Selama Orde Baru, ada dua pahlawan nasional yang dicekal. Maksudnya nama mereka tidak tercantum dalam buku pelajaran sejarah sekolah meski surat pengangkatan sebagai pahlawan nasional tidak dicabut. Keduanya adalah tokoh dari golongan kiri, yakni Tan Malaka (diangkat tahun 1963) dan Alimin (1964).
Dalam waktu lebih 30 tahun, etnis Tionghoa tidak disebut dalam pelajaran sejarah Indonesia. Aneka peringatan atau pertunjukan kultural yang berbau Tionghoa tidak pernah ditampilkan di depan umum. Buku Slamet Mulyana yang memuat pendapat kontroversial bahwa Wali Songo berasal dari etnis Tionghoa tidak dibahas secara ilmiah, tetapi langsung dilarang Kejaksaan Agung.
Baru pada era reformasi keadaannya berangsur berubah. Perayaan Imlek, misalnya, diakui sebagai hari libur fakultatif (masa Presiden Abdurrahman Wahid) dan libur resmi (era kepemimpinan Mega). Barongsai dipertunjukkan di mana-mana. Sejarah kelenteng diulas di televisi.
Tampaknya, perjalanan warga Tionghoa masih panjang untuk mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan etnis lain di Tanah Air. Diskriminasi di bidang hukum masih berlaku terhadap etnis Tionghoa. Tidak kalah, diskriminasi di bidang sejarah. Sumbangan amat besar etnis Tionghoa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi selama berabad-abad di Nusantara tidak pernah diajarkan kepada siswa. Perlu dicatat, etnis Tionghoa berjuang melawan Belanda. Di Kalimantan Barat, seperti diteliti sejarawan UGM Harlem Siahaan, kongsi Tionghoa pernah mengangkat senjata terhadap Belanda.
Major John Lie
Salah seorang tokoh etnis Tionghoa yang berjasa kepada Republik ini adalah Mayor John Lie. Ia adalah mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM yang lalu bergabung dengan Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor.
Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda. Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.
Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan the Outlaw.
Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan". Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga mereka buru-buru pergi.
Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapal the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS di Maluku lalu PPRI/Permesta. John Lie yang juga dikenal dengan nama Jahya Daniel Dharma tetap berdinas di Angkatan Laut, terakhir berpangkat laksamana muda. Ia layak diusulkan sebagai pahlawan nasional.
Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris.
Sumber: Kompas, Jumat, 31 Januari 2003
Satu Lagi Bukti Manusia Raksasa
Me ski sudah beberapa bukti ditemukan, masih banyak orang yang meragukan eksistensi manusia raksasa. Para ilmuwan bahkan penasaran terhadap kemungkinan pernah hidupnya jenis manusia besar ini. Atas dasar itulah, sekelompok ilmuwan Rusia mengadakan penelitian sejak awal tahun 2005 lalu di Suriah, Mesir, Lebanon, dan kawasan lainnya di Arab Saudi.
Pelacakan tim ilmuwan Rusia yang dipimpin Ernst Muldashev ini ternyata tidak sia-sia. Menurut laporan Trust Rusia pada 1 Desember 2005 lalu, mereka telah memperoleh penemuan penting dalam penyelidikan bersejarah atas keberadaan manusia raksasa di planet kita ini. Tidak hanya ditemukan jejak kaki manusia raksasa, mereka juga menjumpai makam manusia raksasa.
Ernst Muldashev menunjuk beberapa contoh makam manusia raksasa. Dan salah satu di diantaranya adalah makam Abel, terletak di sekitar Damaskus ibukota Suriah. Panjang makam kurang lebih enam meter, dan lebar sekitar 1.8 meter. Di daerah lain di Suriah juga banyak ditemui makam manusia raksasa, di mana salah satu di antara manusia raksasa dalam kuburan itu tingginya mencapai 7.5 meter.
Hanya saja mereka kurang leluasa mengadakan penelitian ini karena adanya faktor penghambat. Menurut, Ernst Muldashev, warga setempat dengan alasan agama dan faktor lainnya tidak menyokong penyelidikan ini. Belakangan ini karena kerusakan makam yang ditimbulkan pencari harta karun, sedikit banyak mereka berpeluang mendekati sejumlah makam.
Hasil temuan ilmuwan Rusia ini bukanlah suatu yang kebetulan. Karena, selain legenda dari berbagai bangsa di dunia tentang manusia raksasa dalam budaya barat dan timur, juga banyak dicatat dalam buku sejarah. Sejumlah besar penemuan arkeologi belakangan ini juga sudah membuktikannya.
Lihat saja penemuan jejak kaki raksasa di sebuah palung sungai Paluxy di Glen Rose, Texas AS, serta lukisan raksasa yang ditemukan di etsa lapisan terbawah padang pasir timur Los Angeles, California, AS. (Lihat tabloid Era Baru edisi 14/Tahun I 2003). Selain itu juga ditemukannya kerangka tulang manusia raksasa oleh tim eksplorasi ARAMCO dalam eksplorasi ladang minyak di kawasan Empty Quarter, sebelah Timur Arab Saudi.
Koran Travelling Thailand pada edisi 02 Juni 2005, juga melaporkan bahwa bencana Tsunami di samudera Hindia pada 26 Desember2005 lalu telah menyebabkan kerangka manusia raksasa purba terapung dipermukaan laut. Kerangka manusia besar dengan tinggi 3.1 meter ini ditemukan di kepulauan PP Thailand, dan sempat menjadi perhatian banyak orang.
Begitu juga laporan CNA, Singapura pada awal 2006 ini. Disebutkan di negara bagian Johor, Malaysia yang berbatasan dengan Singapura tersiar kabar adanya manusia raksasa dengan tinggi hampir tiga meter. Menurut laporan media Singapura dan Malaysia, ada yang pernah melihat manusia liar di hutan sekitar air terjun, Johor. Setelah berita itu tersebar, lembaga himpunan alam Malaysia lalu kesana melakukan pencarian, namun, sampai sekarang tidak ada hasil. Dinas Pertamanan Nasional Johor menuturkan, mereka tidak punya data terkait, dan tidak dapat membuktikan manusia liar itu benar-benar eksis atau tidak.
Penduduk setempat yang pernah melihat manusia liar itu menceritakan, manusia liar itu tingginya hampir tiga meter, jejak kaki yang ditinggalkan panjangnya 50 cm, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bulu lebat, celah giginya besar, wujudnya persis seperti gorila, dan kerap muncul di hutan sekitar air terjun. Setelah kabar tentang manusia liar bertubuh besar ini tersebar luas, himpunan alam Malaysia lalu membawa serombongan reporter, menyelami hutan di sekitar air terjun, Johor, mencari jejak manusia liar.
Kepada media, penanggung jawab himpunan alam Malaysia itu menuturkan, bahwa manusia liar meninggalkan jejak kaki sepanjang 50 cm di berbagai tempat. Namun, dinas pertamanan nasional Johor mengatakan, karena tidak mempunyai data yang lengkap, tidak dapat dipastikan makhluk apa sesungguhnya manusia liar yang diceritakan penduduk setempat tersebut.